Halal Haram Kaya melalui Kekayaan Orang Lain

Oleh: Hidayatul Azqia (Divisi RnD)

Menjadi seseorang yang kaya merupakan mimpi hampir semua manusia di dunia walupun ada beberapa orang yang dengan sengaja tidak ingin menjadi kaya, namun jika seseorang ditanya apakah mau menjadi orang kaya pastinya dia akan menjawab ya. Karena, ini memang naluri seseorang sebagai manusia pasti ingin kaya. Nah banyak orang kaya bisa kaya dari kekayaan orang lain, loh kok bisa? Iya bisa, salah satunya dengan memiliki saham sebuah perusahaan maka seseorang tidak perlu bekerja namun dapat penghasilan tentunya dengan cara ini bisa menjadi kaya. Pasti di benak kita sebagai seorang muslim yang taat muncul pertanyaan apakah hal ini diperbolehkan oleh agama kita? Jangan khawatir karena sekarang telah ada yang namanya saham syariah. Lalu apa perbedaan saham syariah dengan saham konvensional? Nah untuk menjawab pertanyaan ini berikut akan penulis bahas tentang saham syariah.

Sebelum masuk ke dalam hukum saham syariah terlebih dahulu kita bahas apasih saham syariah itu? Secara umum saham merupakan surat bukti penyertaan modal dalam suatu perusahaan sedangkan saham syariah merupakan efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di Pasar Modal. Definisi saham dalam konteks saham syariah merujuk kepada definisi saham pada umumnya yang diatur dalam undang-undang maupun peraturan OJK dan lainnya. Ada dua jenis saham syariah yang diakui di pasar modal Indonesia. Pertama, saham yang dinyatakan memenuhi kriteria seleksi saham syariah berdasarkan peraturan OJK No. II.K.1 tentang penerbitan Daftar Efek Syariah, kedua adalah saham yang dicatatkan sebagai saham syariah oleh emiten atau perusahan publik syariah berdasarkan peraturan OJK No. 17/POJK.04/2015. [1]

Semua saham syariah yang terdapat di pasar modal syariah Indonesia, baik yang tercatat di BEI maupun tidak, dimasukkan ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK secara berkala, setiap bulan Mei dan November. Saat ini, kriteria seleksi saham syariah oleh OJK adalah sebagai berikut;

  1. Emiten tidak melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:
    • perjudian dan permainan yang tergolong judi;
    • perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain:
      • perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
      • perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
    • jasa keuangan ribawi, antara lain:
      • bank berbasis bunga;
      • perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
    • jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
    • memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan antara lain:
      • barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi);
      • barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram lighairihi) yang ditetapkan oleh DSN MUI;
      • barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat;
      • melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah);

2. Emiten memenuhi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:

  • total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45% (empat puluh lima per seratus); atau
  • total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari  10% (sepuluh per seratus).[1]

Nah itulah bedanya saham syariah dengan saham konvensional, jika di saham konvensional tidak ada peraturan seperti hal diatas. Lalu apakah saham syariah ada yang saham biasa dan istimewa (preferen) seperti pada saham konvensional?  Dalam saham syariah hanya ada saham biasa tidak ada instrumen saham istimewa (preferen), sebagaimana pengertian saham syariah pasal 4 Fatwa MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003, Saham Syariah adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria sebagaimana tercantum dalam pasal 3, dan tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa. Saham jenis ini diharamkan oleh ketentuan syriah karena terdapat dua karakteristik utama, yaitu :

  1. Adanya keuntungan tetap (pre-determinant revenue). Hal ini menurut kalangan ulama dikategorikan sebagai riba.
  2. Pemilik saham preferen mendapatkan hak istimewa terutama pada saat likuidasi. Hal ini mengandung unsur ketidakadilan.[1]

Selain itu Para ahli fikih kontemporer memandang saham preferen ini harus dihindari karena tidak sesuai dengan ketentuan secara Islam, karena pemilik saham ini mempunyai hak mendapatkan bagian dari kelebihan yang dapat dibagikan sebelum dibagikan kepada pemilik saham biasa (Ibrahim, 2003).

Berdasarkan pemaparan di atas menurut Majelis Ulama Indonesia hukum dari saham syariah adalah boleh sebagaimana dengan yang terdapat dalam Fatwa MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal dan No: 80/DSN-MUI/VI/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek dengan berlandasakan Q.S Al-Baqarah Ayat 275 dan Al-Maidah ayat 1 sebagai berikut:[2]

“hai orang-orang yang beriman! penuhilah akad-akad itu…” “…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Fatwa tersebut juga berlandaskan pendapat ulama yakni Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu juz 3/1841 yang mengatakan bahwa “Bermuamalah dengan (melakukan kegiatan transaksi atas) saham hukumnya boleh, karena pemilik saham adalah mitra dalam perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya.”[3]

Namun perlu diketahui bahwa transaksi saham syariah dapat jatuh menjadi haram apabila seseorang membeli saham syariah dengan tujuan spekulasi, spekulasi saham merupakan kegitan jual beli saham dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi harga saham. Spekulasi dilarang karena terdapat unsur-unsur yang tidak sesui dengan syariat islam dan menimbulkan dampak negatif, seperti menyebabkan harga saham yang fluktatif dan hanya menguntungkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Selain itu, spekulasi  merupakan sumber penyebab terjadinya krisis keuangan. Fakta menunjukkan bahwa aktivitas para spekulan inilah yang menimbulkan krisis di Wall Street tahun 1929 yang mengakibatkan depresi yang luar biasa bagi perekonomian dunia di tahun 1930an. Begitu pula dengan devaluasi poundsterling tahun 1967, maupun krisis  mata uang franc ditahun 1969.[4]

Jika anda masih bertanya tanya kenapa dengan saham syariah seseorang biasa menjadi kaya? Jawabanya karena ketika seseorang membeli saham syariah akan mendapatkan keuntungan yang Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham syariah:

  1. Dividen
    Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai, artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
  2. Capital Gain

Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.[5]

Adapun contoh dari saham syariah diantaranya saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan masih banyak lagi yang jelas jika sudah masuk DES (Daftar Efek Syariah) maka saham itu sudah termasuk saham Syariah yang telah memenuhi kriteria sebagai saham syariah dan hukumnya boleh berdasarkan Fatwa MUI. Maka kesimpulannya saham syariah hukumnya boleh asalakan bukan tujuan untuk spekulasi .


[1] Junaidi, Sekilas Mengenai Saham Syariah dan Jakarta Islamic Index (JII), wordpress 2009.

[2] https://dsnmui.or.id/ di akses pada 8 Desember 2018 pukul 12.45 WIB

[3] Fatwa MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003

[4] Anna Nurlita, Investasi di Pasar Modal Syariah dalam Kajian Islam, Jurnal Penelitian sosial keagamaan, Vol.17, No.1 Januari-Juni 2014, hal 17.

[5] Ahmad Rodoni dan Abdul Hamid. Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Zikrul Hakim. 2008), 146

Leave a Reply

Close Menu