“POP CULTURE x ECONOMIC: The Profit from People’s Joy”

“POP CULTURE x ECONOMIC: The Profit from People’s Joy”

sumber: KAKAP 15 Desember 2022

Merujuk pada KBBI, Budaya Pop dapat diartikan sebagai budaya yang dikenal dan digemari oleh masyarakat pada umumnya, relevan dengan kebutuhan masyarakat pada zaman sekarang dan serta mudah diterapkan dan dipahami dalam kehidupan sehari hari. Menurut Stuart Hall, Budaya Pop adalah ranah berlangsunya terhadap kelompok tertentu, dengan  kesepakatan nilai-nilai sosial dari kesepakatan paham penguasa yang mendominasi. Berpegang pada pendapat Stuart Hall tersebut, maka budaya pop tidak bisa dilepaskan dari intervensi pemerintah pada wilayah tersebut.

Dalam pembentukannya, Budaya Pop memiliki beberapa syarat yaitu ; Menjadi trend, budaya yang menjadi trend atau diminati oleh banyak masyarakat akan menjadi Budaya Pop karena itu sebagai tanda budaya tersebut diterima oleh masyarakat. Keseragaman bentuk, memiliki banyak varian tetapi bersumber atau bertema satu jenis. Adaptabilitas, beradaptasi dengan masyarakat setempat. Durabilitas, memiliki ketahanan yang tinggi dalam mengarungi zaman. Terakhir adalah profitabilitas, menghasilkan keuntungan.

Pada masa kini, Pop Culture identik dengan industry kreatif yang mencapkup produksi perfilman seperti Hollywood dan Bollywood. Konten media, periklanan, fashion, desain interior, arsitektur, kriya, kuliner dan masih banyak lagi.

Dikarenakan budaya yang populer, diterima oleh masyarakat dan didukung oleh pemerintah maka budaya pop tidak bisa dimungkiri dapat dimanfaatkan dalam menunjang ekonomi suatu negara. Bukti hubungan antara Pop culture dengan ekonomi negara dapat dilihat dari berita yang tersiar. Pada hari Selasa 18 Oktober 2022 tersiar berita Personil Boy Band BTS (Base Transceiver Station) melaksanakan tugas wajib militer, menariknya berita tersebut beriringan dengan kerugian negara asal BTS tersebut yaitu Korea Selatan mengalami kerugian sebesar Rp. 55 Triliun.

Hal ini dimulai dari tahun 1994 dimana Presiden Korea Selatan Kim Young-sam terinspirasi oleh film jurasic park yang release tahun 1993 yang memiliki total pendapatan setara dengan 1,7jt penjualan mobil Hyundai. Kim Young-sam pun disinyalir terinspirasi dan mulai mendanai industry kreatif korea selatan khususnya industry Boy Band dan Girl Band.

Dalam perkembangannya pemerintah korea selatan membuat kementrian khusus dalam menangani hal ini yang diberi nama kementrian kultur dan olahraga. Pada tahun 1998 telang mengabiskan dana sebesar $44 juta, tahun 1999 menghabiskan $85 juta dan pada tahun 2021 kementrian kultur dan olahraga telah menghabiskan dana sebesar $890 juta dan semua itu diperuntukan hanya untuk Promosi Hiburan dan Industri budaya korea selatan.

Dampak yang dirasakan oleh korea selatan adalah perkembangan industry kreatif khususnya Boy Band BTS ini telah menyumbang 3% dari kenaikan GDP Korea Selatan dan bahkan satu Album BTS yaitu Dynamite menyumbang 40% dari pangsa penjualan barang ekspor.

Maka dari itu Indonesia yang kaya akan budaya dan bahasa juga memiliki potensi besar dalam memanfaatkan segala kekayaan yang dimiliki ini dalam menunjang perekonomian Indonesia. Tentu diperlukan dana yang tidak sedikit dan usaha yang berkepanjangan baik dari masyarakat dan pemerintahannya sendiri.

Melihat dana dan dukungan dari pemerintah korea selatan  dan sesuai dengan definisi pop culture yang diberikan oleh aktivis politik dan pegiat kebudayaan Stuart Hall maka budaya dan Bahasa Indonesia ini tidak akan pernah masuk dalam jajaran Pop culture jika tidak mendapatkan dukungan rill dari pemerintah.

Semoga bermanfaat, jangan lupa share agar saudara kita juga mendapat kebaikan dan semoga menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus pahalanya🤗

Leave a Reply