Potensi Sumber Daya Manusia di Indonesia

Oleh M Ashraafi Ainun Ilman

Padahal Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Sedangkan 30 persen penduduknya adalah berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.
Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo saat membuka rapat terbatas dengan topik Optimalisasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/2).
“Tahun 2020-2030 kita Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi di mana penduduk usia produktif sangat besar. Artinya dalam kurun waktu 3-13 tahun ke depan kita akan memiliki banyak sekali SDM yang tengah pada puncak usia produktif,” kata Jokowi. (Kumparan, 2017)
Jumlah usia produktif di Indonesia terbilang cukup besar dan ini merupakan peluang bagi kebangkitan peradaban ekonomi islam di Indonesia. Melalui pendidikan-pendidikan baik formal maupun non-formal mengenai ekonomi islam sudah harus ditanamkan sejak usia dini agar mampu menjadi generasi ekonom muda yang mampu bersaing di kancah Internasional.
Potret Pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia
Pada industri keuangan syariah, masalah yang dihadapi oleh industri keuangan syariah hari ini adalah masih terbatasnya sumber daya manusia yang betul-betul menguasai ekonomi Syariah. Berdasarkan data bank Indonesia, 90% SDM yang bekerja di perbankan syariah adalah berasal dari non sarjana ekonomi Islam. Artinya lulusan perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi Islam hanya bisa bersaing di indusrti keunagan syariah hanya 10%. Kesenjangan terjadi bisa disebabkan kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi Islam belum memadai, atau pendekata pengajarannya yang belum tepat, sehingga perlu dilakukan perbaikan dan perumusan langkah strategis agar lulusan perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi syariah dapat memenuhi kebutuhan industri keuangan syariah. (Rozalinda, 2015)
Dalam pertumbuhan ekonomi islam yang begitu massive ini, perbankan dan keuangan membutuhkan SDM profesional yang memahami dasar-dasar teori dan praktek ekonomi syariah. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah minimnya kuantitas SDM dan kualitas kompetensi yang masih rendah. Diperkirakan dibutuhkan sekitar 60 sampai 80 ribuan tenaga kerja yang bergerak di lembaga keuangan syariah lima tahun ke depan. Jumlah ini akan semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan industrinya. Ironisnya, baru sekitar 25 hingga 30-an universitas yang membuka kajian ekonomi Islam dan hanya mampu menghasilkan lulusan sekitar 1.000-an orang setiap tahunnya.
Fakta lainnya adalah mereka yang bekerja di industri keuangan syariah masih didominasi oleh mereka yang berlatar belakang konvensional (90 persen), yang dibekali pelatihan singkat perbankan syariah. Hanya sekitar 10 persen yang berlatar belakang syariah. Fakta ini tentunya berpengaruh terhadap kualitas “kesyariahan” industri yang ada. (Amalia, 2012) 
Masalah SDM masih menjadi suatu hal yang cukup fundamental di Indonesia, jika melihat pesatnya perkembangan industri keuangan syariah di berbagai belahan dunia dan di Indonesia khususnya adalah menjadi suatu keniscayaan. Perbandingan 180 derajat terjadi antara SDM dan perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia.
Peran Training Sumber Daya Manusia pada Pendidikan Ekonomi Islam
Sumber daya manusia merupakan human capital jika dalam sebuah institusi bisnis yang mana memiliki peran strategis dalam menghadapi perkembangan bisnis yang cepat dan global. Industri keuangan syariah memiliki perbedaan karakteristik dengan industri keuangan konvensional maka dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.
Mengadopsi serta mengembangkan konsep human capital yang didefinisikan oleh Penning dan Wittleoostuijn (1998), maka profil sumber daya manusia pada industri keuangan syariah harus memiliki knowedge dan skill yang mana sejalan dengan karakteristik tersebut. Antara lain:
Aspek Knowledge
Knowledge, yang harus dimiliki sumber daya manusia pada industri keuangan syariah antara lain penguasaan terhadap Al-Qur’an dan As-sunnah, khususnya tentang bisnis sebagai rujukan utama Islam. Penguasaan terhadap Fiqh Muamalah sebagai rujukan hukum ekonomi/muamalah.
Skill
Skill atau keterampilan yang harus dimiliki, antaralain; kemampuan mengemban amanah (khalifah), kemampuan berkomunikasi dengan baik (tabligh), kemampuan memasarkan dengan baik. Kemampuan menunjukkan pelayanan prima sebagai perwujudan ibadah. Keuangan syariah bukan hanya menawarkan jasa, namun juga menawarkan sejumlah value maka, setiap sumber daya manusia industri keuangan syariah harus mampu mentransformasikan ajaran agama dalam hal akhlaq ke dalam keterampilan melayani dan perilaku bekerja.
Kedua aspek di atas, baik knowledge maupun skill tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Ketiadaan salah satu aspek dalam diri seseorang, maka akan berpengaruh terhadap kinerja industri keuangan syariah tersebut. (Awirya & Piliyanti)

Daftar Pustaka

Amalia, D. E. (2012). Potret Pendidikan Ekonomi Islam di Indonesia.
Awirya, A. A., & Piliyanti, I. (n.d.). Kesiapan Mahasiswa Ekonomi Islam Menghadapi Pasar Kerja pada Lembaga Keuangan Syariah (Studi pada Perguruan Tinggi Ekonomi Islam. 10-11.
Kumparan. (2017, February 7). News Article: Kumparan. Retrieved Oktober 5, 2017, from Kumparan.com: https://kumparan.com/wiji-nurhayat/jokowi-indonesia-mendapat-bonus-demografi-tahun-2020-sampai-2030
Rozalinda. (2015). Epistemologi Ekonomi Islam dan Pengembangannya pada. 1-2.

Leave a Reply

Close Menu