Sinopsis Buku Satanic Finance

Sinopsis Buku Satanic Finance

Ekonomi adalah bahasan yang tidak akan pernah ada habisnya. Hal ini dikarenakan, segala permasalahan ekonomi akan terus berputar dari satu orang kepada orang lain. Begitu pula dalam perihal bermasyarakat atau berekonomi dalam skala besar. Seperti sebuah kata-kata yang cukup tenar dikalangan para pemuda masa kini, “high risk high return”Dalam berekonomi, setiap pelaku ekonomi tidak asing lagi dengan istilah krisis. Dari krisis inilah kekacauan terjadi, akal dan moral manusia bisa menjadi lebih buruk apabila menghadapi hal seperti krisis.

Berbicara mengenai krisis, buku satanic finance ini merupakan refleksi dari keresahan jiwa sang pengarang terhadap krisis ekonomi yang menyebabkan semakin meningkatnya kesenjangan dalam perekonomian manusia. Pengarang seperti hendak menyampaikan dalam karyanya bahwa sistem ekonomi modern yang tercipta dan teraplikasikan pada saat ini merupakan sebuah solusi ekonomi yang bersifat semu.

Kemudian dalam buku ini, pengarang menggunakan metode penulisan yang unik, dimana pengarang mendeskripsikan dirinya seolah menjadi seorang setan yang sedang menjelaskan apa yang dilakukan olehnya. Dia menyampaikan perihal permasalahan ekonomi sebagai seorang setan yang pada dasarnya bertugas untuk menggoda dan menyesatkan umat manusia.  

Dalam buku ini, sosok setan mengeksplorasi segala hal tentang dirinya. Seperti memberitahu tentang tiga pilar utama senjata setan yang digunakan untuk menyesatkan umat manusia dalam sector ekonomi. Ketiga pilar tersebut adalah uang, interest, dan fractional reserve requirement atau secara besar setan memaparkan tentang konspirasi yang dimasukannya ke dalam institusi perbankan.

Untuk memperjelas argumennya mengenai kritknya terhadap sistem ekonomi, pengarang menggunakan pendekatan cerita dengan mengilustrasikan kejahatan sistem ekonomi yang terjadi pada suku tukus dan sukus.

Singkat cerita mengenai kedua suku tersebut, tadinya kedua suku itu adalah suku yang adil dan damai. Tapi setelah datangnya pendatang yang membawa sistem ekonomi yang jahat sehingga berhasil merenggut segala hal milik kedua suku itu. Dalam bukunya seolah pengarang sebagai sosok setan memang berusaha mengarahkan suku tukus dan sukus agar melakukan aktifitas ekonominya berdasarkan prinsip satanic, yaitu tiga pilar ekonomi setan sebagaimana tercantum pada paragraph sebelumnya.

Kemudian, sosok setan dalam buku ini masih belum puas dengan kerusakan umat manusia yang sudah berhasil dia lalui sebelumnya. Dia menginginkan ada sesuatu yang baru guna menghancurkan umat manusia. Maka dari itu sosok setan itu mencari celah dalam hati manusia. Setelah itu, setan berusaha mengalihkan sistem perekonomian ke dalam sistem ekonomi yang berlandaskan dengan utang. Karena menurut sosok setan dalam buku ini, utang adalah salah satu langkah yang paling efektif untuk memancing manusia agak berbuat dosa dan kufur terhadap agamanya.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa utang dapat menyebabkan terputusnya tali silaturahmi. Selain itu, perihal utang ini, setan membagi skema penyesatannya ke dalam dua hal. Pertama mengenai utang dari prespektif individu. Dimana dalam prespektif ini setan lebih fokus terhadap daya konsumsi manusia. Sosok setan ini meniup-niupkan sifat dengki ke dalam hati manusia. Sehingga manusia cenderung memiliki utang untuk memuaskan hasratnya terhadap sebuah barang. Jadi intinya dalam prespektif individu, sector ekonomi adalah salah satu sector yang sangat penting. Dan efek buruk dari utang itu sendiri dalam buku ini dijelaskan lambat laun kemerdekaan orang yang berutang akan tergangu.

Kemudian mengenai fiat money, pengarang mengutip perkataan dar seorang penjelajah terkenal yaitu marco polo yaitu mengenai penggunaan fiat money sebagai alat perluasan kekuasaan. Dan pengarang menyebutkan bahwa penciptaan uang di amerika sendiri merupakan sebuah konspirasi yang dinaungi oleh segelintir orang yang berada dibawah The Federal reserve system atau yang biasa disingkat dengan kata the fed. Pengarang juga membahas sebagai sosok setan yang mengatakan bahwa kata “in god we trust” adalah salah satu alat konspirasi untuk menipu kaum beragama melalui uang. Hal ini cukup untuk membelokkan manusia dari syariat yang nyata, yaitu syariat dari Rasulullah saw. Dengan iming-iming untk mencapai keadilan dunia, maka para konspirator barat mencoba menghapuskan islam dalam segala aspek.

Leave a Reply

Close Menu