KAKAP presented by Rosyidatul Awwaliyah (Staff of KASTRAT 2023-2024)
Written by Safiraa (Staff of DEAR 2024-2025) & Hafidz
Pada zaman penuh kemudahan dan akses informasi digital, istilah brain rot yang identik dengan kecanduan scroll atau menggeser konten pada aplikasi video dan sosial media makin mudah untuk kita dengar. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan kualitas mental dan intelektual seseorang akibat konsumsi berlebihan konten-konten yang dangkal isinya.
Fenomena ini menjadi sorotan karena konten-konten tersebut mampu menghilangkan kejenuhan namun menjadi kurang produktif, mengurangi kinerja otak, dan dapat memengaruhi kesehatan mental. Kata ini populer pada tahun 2024 dan Oxford University Press menetapkan kata brain rot sebagai Word of The Year 2024. Pada definisi menurut Oxford, brain rot adalah kemerosotan keadaan mental atau intelektual seseorang, terutama dilihat dari akibat konsumsi berlebihan konten online yang sepele atau tidak menantang.
Penggunaan istilah brain rot meningkat tajam sebesar 230% antara 2023 dan 2024. Dari perhatian para ahli di Oxford, istilah ini populer di tahun 2024 karena digunakan untuk menyadari kekhawatiran tentang dampak dari konsumsi konten online berkualitas rendah secara berlebihan.
Pertama kali istilah brain rot ditemukan pada tahun 1854 dalam buku karya Henry David Thoreau yang berjudul Walden, yang menceritakan pengalamannya menjalani gaya hidup sederhana di alam. Pada buku tersebut, Thoreau mengkritik kecenderungan masyarakat dalam meremehkan ide-ide kompleks atau ide-ide yang diinterpretasikan secara asal agar terlihat sederhana. Ia melihat hal ini sebagai indikasi umum pada upaya menurunnya kualitas mental dan intelektual. Thoreau berkata, “While England endeavours to cure the potato rot, will not any endeavour to cure the brain-rot – which prevails so much more widely and fatally?”
Akhirnya pada era digital sekarang, istilah ini ramai digunakan khususnya selama 12 bulan terakhir pada platform video online TikTok. Awalnya istilah ini ramai dan menjadi daya tarik di sosial media khususnya di TikTok oleh komunitas generasi Z dan Alpha, lalu istilah brain rot meluas sampai masuk dalam pembahasan jurnalisme dan media mainstream, di tengah kekhawatiran masyarakat akan dampak negatif dari konsumsi konten online berlebihan dan menurunkan kualitas mental dan intelektual.
Fenomena Brain Rot di Indonesia
Pada masyarakat di Indonesia, jebakan brain rot sepertinya tidak bisa lepas begitu saja khususnya bagi generasi Z dan Alpha. Dari data yang disajikan oleh Exploding Topics dalam artikel berjudul TikTok User Age, Gender, & Demographics (2024), netizen Indonesia merupakan penonton TikTok paling lama nomor satu di dunia dengan rata-rata durasi 41 jam 35 menit setiap bulannya, mengalahkan netizen Inggris dengan durasi 40 jam 5 menit, netizen Chili dengan durasi 40 jam 1 menit, netizen Meksiko dengan durasi 39 jam 58 menit, netizen Thailand dengan durasi 39 jam 14 menit, dan netizen Amerika dengan durasi 38 jam 2 menit.
Dari data tersebut sudah menggambarkan seberapa tinggi penggunaan platform digital masyarakat Indonesia, khususnya pada aplikasi TikTok yang biasanya memberikan konten-konten video pendek dengan kualitas konteks yang rendah, dangkal, dan tidak bermakna. Dengan screen time yang begitu lama, kemungkinan besar para generasi muda juga mengalami fenomena brain rot. Sayangnya, belum ada hingga artikel ini dibuat studi mengenai fenomena brain rot secara spesifik di Indonesia.
Ancaman yang Ditimbulkan dari Brain Rot
Brain rot pada dasarnya menyebabkan penurunan kinerja otak, kondisi mental, dan kadar intelektualitas seseorang karena konsumsi konten yang dangkal konteksnya secara berlebihan. Ini menyebabkan kita menjadi susah untuk fokus terhadap sesuatu khususnya dalam mengonsumsi sesuatu yang sifatnya jenuh, butuh daya berpikir kuat, dan berdurasi panjang.
Salah satu sebabnya juga mengakibatkan dopamine rush. Dopamine pada dasarnya adalah neurotransmitter atau hormon yang diproduksi oleh otak yang berperan berperan dalam mengatur emosi, motivasi, dan kesenangan. Lonjakan hormon dopamine terjadi karena berbagai aktivitas yang menyenangkan seperti olahraga, makan makanan enak, termasuk juga ketika mengonsumsi konten pendek, receh, dan mengundang tawa secara berlebihan. Ketika kita mengonsumsi sesuatu, dopamine dilepaskan dan menciptakan sinyal bahwa hal tersebut layak untuk dikonsumsi ulang.
Namun jika seseorang terus-menerus mengonsumsi sesuatu yang menimbulkan lonjakan produksi hormon dopamine, hal itu bisa mengarah pada kebiasaan yang tidak sehat atau adiktif yang dinamakan dopamine rush. Ini bisa menimbulkan seseorang sulit mendapat kepuasan tanpa rangsangan tersebut. Hal ini memaksa kita untuk terus menonton konten receh dengan konteks yang remeh agar kejenuhan dalam diri kita merasa terpuaskan.
Penyebab lainnya dari kecanduan scroll konten tidak berfaedah dan konteks yang dangkal adalah menurunnya kemampuan kognitif atau terjadi defisit kognitif. Defisit kognitif yang dimaksud adalah penurunan fungsi mental yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir, belajar, mengingat, dan mengambil keputusan. Dalam sebuah ulasan yang berjudul Cognitive Deficits in Problematic Internet Use: Meta-Analysis of 40 Studies, disebutkan bahwa problematic internet use (PIU) atau penggunaan internet yang buruk dapat mengakibatkan seseorang mengalami defisit kognitif. Dalam penelitian tersebut PIU ditandai oleh beberapa indikator di antaranya :
- Kendali Hati & Niat yang Buruk. Kesulitan untuk mengontrol penggunaan internet dan lepas dari kecanduan meskipun ada secercah keinginan dalam nurani untuk berhenti.
- Kecanduan Hidup di Dunia Maya. Menghabiskan waktu berlebihan pada aktivitas di dunia maya seperti bermain game, belanja, atau scroll media sosial yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Kabur dari Dunia Nyata. Menggunakan internet untuk menghindari interaksi sosial atau masalah di dunia nyata.
- Terjadi Perilaku Kompulsif & Impulsif. Kompulsif adalah gangguan kecemasan yang berlebihan dan individu dipaksa untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu demi menenangkan rasa cemasnya tersebut. Sedangkan impulsif adalah bertindak secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan di luar rencana, sehingga sering kali sikapnya sangat irasional.
- Rasa Cemas & Depresi Tanpa Internet. Mengalami gejala kecemasan atau depresi ketika tidak dapat mengakses internet.
PIU pada dasarnya dimaknai dalam konteks umum penggunaan internet yang buruk. Namun dari indikator di atas, dapat disimpulkan bahwa jika kita berselancar di Internet secara berlebihan dan mengonsumsi konten receh di luar batas tanpa dibarengi aktivitas yang melatih kerja otak dan daya berpikir, maka ada kemungkinan besar kita akan terkena dampak dari brain rot dan muncul indikator PIU dari diri kita.
Solusi agar Terhindar dari Brain Rot
Penggunaan internet, media sosial, apalagi platform video pendek sudah tidak bisa lepas dari genggaman kita hari ini. Semua informasi, berita, dan tren terbaru selalu muncul tiap detik di dalam smartphone kita. Maka cara terbaik untuk kita bisa terus menggunakan alat ini adalah bersikap bijak dan teratur dalam berselancar di internet dan media sosial. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari brain rot yaitu :
- Membersihkan Algoritma Kita
Ketika kita scroll di media sosial, kita harus jeli dengan konten yang kita tonton. Perbanyak like pada konten yang bermanfaat dan berbobot, lalu gunakan fitur not interested in this content pada konten-konten yang tidak bermanfaat. Biasanya klik titik tiga pada video atau pencet lalu tahan pada video untuk menampilkannya.
- Melakukan Kegiatan yang Meningkatkan Kognitif
Kemampuan yang dapat meningkatkan berpikir, belajar, mengingat, dan mengambil keputusan di antaranya bisa dengan membaca bacaan yang membuat kita berpikir seperti buku, berita, artikel, dan opini, lalu melakukan meditasi atau lepas dari jangkauan gadget dalam waktu yang lama, dan terakhir sering bersosialisasi bersama teman, komunitas, atau teman diskusi agar memantik daya berpikir dan kemampuan dalam pengambilan keputusan.
- Mengatur Penggunaan Media Sosial
Kita secara pribadi dapat mengatur penggunaan media sosial dengan mengatur jadwal penggunaannya seperti memasang timer atau aplikasi paksaan agar kita berhenti. Jangan lupa juga untuk berkomitmen agar kita tidak terus dipaksa untuk mengurangi scroll media sosial tapi juga bisa berhenti dari kesadaran diri kita sendiri.
Refleksi Diri Terhadap Kemajuan Zaman
Melihat kemajuan teknologi dan informasi semakin pesat sekarang, generasi Z dan Alpha harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri lebih baik lagi. Kita dipercayakan dengan kemudahan akses dan penyebaran informasi yang lebih inklusif agar lebih bijak dalam menggunakan dan memanfaatkannya. Konten yang sangat familier, receh, dan identik dengan brain rot seperti Skibidi Toilet milik Alexey Gerasimov dan komedi Only in Ohio membuat standar konten receh semakin ringan namun tidak berbobot. Ada kalanya kita bisa sekali-kali menonton konten seperti namun tidak sehat bagi mental kita jika berlebihan.
Tidak harus membuangnya secara mentah-mentah, tapi kita belajar untuk hidup beriringan dengan teknologi dan menyeimbangkannya dengan kehidupan agar menjadi penunjang dan inovasi hidup serta terhindar dari keburukan yang ditimbulkan dari teknologi. Munculnya istilah brain rot menjadi batasan kita agar menggunakan teknologi informasi bisa lebih bijak dan cerdas.
Referensi
Oxford University Press. 2024. ‘Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/
Assifa, Dea. 2024. Mengenal Brain Rot, Oxford Word of The Year 2024. https://warstek.com/brain-rot/
Duarte, Fabio. 2025. TikTok User Age, Gender, & Demographics (2025). https://explodingtopics.com/blog/tiktok-demographics#tiktok-users-region
Indonesia Heritage Foundation. 2024. End of Year Reflection: Brain Rot and All Its Intertwined Aspects. https://ihf.or.id/refleksi-akhir-tahun-brain-rot-dengan-segala-aspeknya-yang-berkelindan/?form=MG0AV3
I. Konstantinos, H. Roxanne, E. G. Anna, et al. 2019. Cognitive Deficits in Problematic Internet Use: Meta-Analysis of 40 Studies. The British Journal of Psychiatry, 215, 639–646.