Media Praktik ZISWAF Berbasis Augmented Reality

Oleh: Abdullah Haidar (KADERISASI)

Ekonomi syariah di Indonesia tidak hanya berkutat perihal ekonomi saja, juga menyangkut persoalan sektor pendidikan. Sejauh ini, peran sektor pendidikan masih berupa kegiatan yang mengedukasi masyarakat atau sosialisasi ekonomi syariah. Akan tetapi, eksistensi ekonomi syariah belum menempati posisi utama. Bahkan, tingkat pemahaman masyarakat indonesia tentang ekonomi syariah masih perlu ditingkatkan lagi (OJK, 2016).

Bank Indonesia sebagai regulator keuangan indonesia terus menggencarkan kemajuan ekonomi syariah. Salah satu strategi yang dilakukan ialah dengan meningkatan sumber daya insani dengan memperkuat kompetensi dan pengetahuan sumber daya manusia di industri keuangan syariah dalam rangka mengoptimalkan alokasi sumber daya (BI, 2016). Untuk itu, sektor pendidikan menjadi persoalan utama dalam menjalankan strategi tersebut dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat ekonomi syariah di dunia (Alamsyah, 2012). Hal ini berarti pengamalan ajaran islam wajib meliputi segala hal termasuk pengamalan ekonomi syariah. Pengamalan ekonomi syariah tidak hanya menyangkut tentang untung, rugi, laba, investasi syariah atau hanya teori saja. Melainkan erat hubungannya dengan praktik ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

Praktik ekonomi syariah yang cocok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu konsep yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Konsep yang menerapkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) dapat mewujudkan pemberdayaan masyarakat secara inklusif. Untuk potensi zakat nasional sendiri mencapai 80 triliun per tahunnya (Hafidhuddin, 2010), potensi ini belum termasuk perhitungan dana infak, sedekah, dan wakaf. Konsep tersebut jika dioptimalkan dengan baik dan tepat sasaran dapat berfungsi sebagai mesin penggerak baru bagi pembangunan negara (BI, 2017).

Penanaman materi-materi mendalam tentang ZISWAF sangat penting dan perlu pengkajian khusus, sehingga model pembelajaran tidak sepenuhnya hanya teori.
Bahkan, lembaga nasional Badan Amil Zakit Nasional (BAZNAS) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) memiliki penyusunan standar pengaturan dan pengawasan zakat dan wakaf karena menyangkut aliran dana dan tata kelola yang harus tepat sasaran. Untuk itu, konsep ini harus ditanamkan sejak dini misalnya di pondok pesantren yang dapat menjadi bibit implementasi ekonomi syariah masa mendatang.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai pesantren, sehingga potensi pengembangan ekonomi syariah sangat besar. Data Kementerian Agama (2013) menunjukan, saat ini terdapat 29.535 pesantren dengan jumlah santri hampir 3,88 Jt jiwa. Selain itu, pesantren memiliki peran strategis sebagai agen pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya (Rahmawaty, 2015). Secara tidak langsung, potensi ini juga akan berdampak pada penguatan ekonomi regional. Untuk itu, para santri harus diberikan cara khusus agar dapat menjadi bibit yang handal dalam kemajuan ekonomi syariah.

Penerapan pendidikan ekonomi syariah di pondok pesantren masih bersifat konvensional. Padahal pendidikan saat ini telah memasuki revolusi kelima, dimana dalam pelaksanaannya telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Rusman, dkk., 2012). Teknologi dapat memudahkan proses pembelajaran sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat. Salah satu teknologi yang berkembang pesat penggunaan dan pengembangannya saat ini ialah teknologi Augmented Reality (AR).

Gambar 1. Teknologi Augmented Reality (AR)

Teknologi AR sangat interaktif dan menarik, dimana pengguna dapat melihat objek (virtual) secara langsung (real time) melalui kamera  smartphone  (Fadhilah, dkk., 2016; Putra, dkk., 2016). Teknologi AR membutuhkan sebuah media atau penanda (marker) untuk memunculkan gambar bergerak, gambar  tidak bergerak (3D), video, dan panel informasi  gambar.  Keunggulan  inilah yang membuat teknologi AR gencar dilakukan pengembangan khususnya di sektor pendidikan.

Penerapan teknologi AR pada proses pembelajaran di  pondok pesantren memiliki daya tarik yang tinggi, salah satu alasannya  karena  penerapannya masih baru. Terlebih, santri akan dioptimalkan untuk mempelajari praktik ZISWAF dalam kehidupan sehari-hari. Melihat potensi ini, penulis memiliki inovasi untuk membangun sebuah aplikasi dengan media praktik ZISWAF yang Edukatif & interaktif menggunakan teknologi AR yang diberi nama AR- ZISWAF.

Gambar 2. Tampilan Halaman Awal AR-ZISWAF

Media AR-ZISWAF terdiri dari sekumpulan halaman, dimana tiap halamannya berisikan tentang praktik zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Setiap gambar memiliki ilustrasi masing-masing yang disertai dengan penjelasan sesuai Al Qur’an dan Hadist serta tata kelola yang tepat sasaran. Pengguna atau santri dapat memelajari media AR-ZISWAF terlebih dahulu, kemudian lebih mudah untuk mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, media AR-ZISWAF
memiliki fitur permainan (evaluasi) untuk mengetahui tingkat pemahaman santri tentang ZISWAF secara mendalam.

Secara umum, media AR-ZISWAF seperti buku pada umumnya. Namun, memiliki gambar khusus, dalam artian terdapat kode-kode yang dimasukkan dalam gambar. Nantinya, kode-kode tersebut akan menampilkan suatu objek (virtual) dalam bentuk 3D, objek yang bergerak atau panel informasi melalui kamera smartphone. Untuk menambah nilai kabaruan, media tersebut juga dilengkapi dengan kamus ekonomi syariah untuk memudahkan santri dalam memahami istilah-istilah pada saat proses ilustrasi berjalan.

Jangka panjangnya, santri menjadi pelopor ekonomi regional atau di masing- masing desanya karena memiliki peran dalam pengembangan riil aktivitas ekonomi syariah. Santri pun turut menjalankan kewajibannya karena  langkah yang dilakukannya adalah berdakwah. Yang terpenting, harapan kita bersama ialah semua elemen dapat terlibat aktif dalam pengembangan ekonomi syariah agar dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.

Leave a Reply

Close Menu