Zakat dalam Empat Mazhab

Zakat dalam Empat Mazhab

Zakat adalah sejumlah harta tertentu dengan sifat-sifat tertentu yang wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqîn) dalam istilah fiqih. Istilahnya secara syari’ah dalam al-Qur’an dan Hadits terkadang menggunakan kalimat shadaqah. Oleh karena itu, Imam al-Mawardi mengatakan, “terkadang yang dimaksud dengan kalimat shadaqah adalah zakat, sedangkan yang dimaksud dengan kalimat zakat adalah shadaqah; dua kata yang berbeda akan tetapi memiliki substansi yang sama.”

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang juga menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syari’at Islam. Oleh sebab itu, Ijma’ Ulama menyatakan bahwa hukum menunaikannya adalah wajib atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Seorang muslim yang enggan membayar padahal mempunyai kemampuan untuk membayarnya, maka tergolong orang yang melakukan dosa besar, dan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Bahkan seandainya keengganan membayar tersebut disertai ingkar/tidak mengakui atas kewajiban membayar zakat, padahal dia tahu bahwa ibadah tersebut wajib hukumnya maka orang tersebut menjadi kufur karenanya. Ayat al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keutamaan menunaikan ibadah ini. Diantaranya:

رحمتی وسعت كل شيء فسأكتبها للذين يتقون ويؤتون الزكوةوالذين هم بئايتنا يؤمنون.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. (QS. Al-A’raaf:156)

Rasulullah bersabda:

حصنوا أموالكم بالزكاة وداووا مرضاكم بالصدقة. (رواه والطبراني وأبو نعیم)

“Jagalah harta kalian dengan menunaikan zakat dan obati orang-orang sakit dari kalian dengan bersedekah.” (HR At-Thobroni Dan abu  Nu’aim).

Orang yang wajib membayar menurut madzhab Syafi’i: (1) Muslim, (2) Merdeka. Harta anak yang masih belum baligh atau orang gila, wajib dikeluarkan zakatnya yang ditunaikan oleh wali/orang yang mengurusnya. Menurut madzhab Hanafi, tidak wajibnya atas harta anak kecil dan orang gila, kecuali atas hasil pertanian dan zakat fitrah. Adapun orang yang mempunyai tanggungan hutang, para ulama berbeda pendapat.

Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i tanggungan hutang tidak dapat mencegah atau kewajiban zakat. Menurut madzhab Hanbali hutang yang tidak bisa terbayar kecuali dengan harta yang harus dikeluarkan, sekira tidak ada harta lain diluar kebutuhan pokok (sandang, pangan dan papan) yang dapat digunakan untuk membayar hutang, maka dapat mengurangi kadar yang harus dikeluarkan, atau bahkan menggugurkan kewajiban jika tanggungan hutang yang harus dibayar mengurangi objek sampai dibawah nishab, baik hutang tersebut sudah jatuh tempo atau belum.

Syarat-syarat dalam mengeluarkan zakat: pertama, niat. Setiap harta yang diberikan kepada mustahiq (golongan yang berhak menerima zakat), harus diniyati sebagai ibadah. Kedua, tamlik. Yakni harta harus diberikan kepada mustahiq dengan cara yang dapat memindah kepemilikan, tidak dalam bentuk suguhan.

Waktu mengeluarkannya apabila sudah memenuhi segala persyaratan wajib, maka harus segera dikeluarkan. Kewajiban membayar harus segera, tidak boleh ditunda-tunda kecuali terdapat alasan yang dibenarkan seperti tidak ditemukan mustahiq, menunggu kerabat yang akan diberikan, menunggu kedatangan tetangga yang membutuhkan, atau menunggu orang yang lebih membutuhkan.

Dalam terminologi fikih, ibadah ini dibagi dua. 1) Mal (zakat harta). 2) Nafs (zakat fitrah).

Zakat maal adalah yang dikenakan atas harta tertentu yang dimiliki oleh seseorang dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, syarat-syarat kekayaan yang wajib dizakati yaitu, pertama, milik penuh (Almilku attam). Yang dimaksud “milik” menurut madzhab Syafi’i adalah memungkinkan untuk ditasharrufkan oleh pemiliknya, meskipun tidak berada dalam kekuasaannya, seperti hilang atau dicuri. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, harta yang tidak sedang dikuasai dan dapat dipergunakan oleh pemiliknya, seperti hilang atau dicuri, tidak wajib dikeluarkan hartanya sebagai ibadah karena tidak dimiliki secara penuh. Kedua, milik perorangan. Yakni, harta yang wajib dikeluarkan sebagai ibadah adalah harta yang dimiliki oleh orang tertentu, baik satu orang atau lebih seperti harta yang dimiliki secara syirkah (lebih satu orang). Ketiga, tidak diperoleh dengan cara haram. Keempat, mencapai kadar nishabnya. Kelima, haul. Yakni, kepemilikan harta sudah berlalu masanya selama dua belas bulan qomariyah, pada objek tertentu. Keenam, lebih dari kebutuhan pokok. Demikian menurut Madzhab Hanafi. Sedangkan ulama dari Madzhab lainnya tidak mencantumkan persyaratan di atas secara tersendiri akan tetapi hanya disebutkan dalam penjelasan. Wallohu a’lam.

An-nafs (zakat fitrah) Ibnu Utaibah berkata: “Yang dimaksud dengan zakat fitrah adalah zakat jiwa.” Dengan demikian, ibadah ini adalah sebagai pembersih jiwa, sebagaimana zakat mil sebagai pembersih harta dari hak-hak mustahiq. Dalam istilah fiqh, zakat fitrah bermakna mengeluarkan bahan makanan pokok dengan ukuran tertentu dan waktu wajibnya dimulai setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan (malam 1 Syawal) dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan.

Waktu zakat fitrah yaitu harus ditunaikan selambat-lambatnya sebelum masuk waktu Maghrib hari raya (masuk tanggal dua Syawal) dan boleh ditunaikan sejak masuk tanggal satu bulan Ramadan (ta’jil). Waktu yang paling utama ditunaikan pada hari raya Idul Fitri setelah shalat Shubuh dan sebelum dilaksanakan shalat idul fitri. Makruh hukumnya membayar setelah shalat Ied sampai masuk waktu Maghrib. Jika tidak ditunaikan sampai masuk waktu maghrib hari raya (tgl 2 Syawal), maka berdosa dan wajib segera ditunaikan (godlo’).

Kadarnya yang harus ditunaikan adalah, satu sha’ dari makanan pokok (beras putih) atau setara dengan 2,720 kg. beras putih. Demikian menurut hasil konversi KH. Muhammad Ma’shum bin Ali. Menurut hasil konversi lain yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Tasyyid al-Bunyan, satu shd’ setara dengan 2,5 kg. untuk lebih hati-hati demi menjaga keabsahan zakat fitrah, sebaiknya kadar yang dikeluarkan digenapkan menjadi 3 kg beras putih. Menurut madzhab Maliki, zakat fitrah boleh ditunaikan dalam bentuk uang senilai kadar beras putih yang harus dikeluarkan. Namun makruh hukumnya. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, zakat fitrah dapat ditunaikan dalam bentuk uang senilai setengah sha’ gandum atau tepung gandum setara dengan 1,907 kg, bukan senilai 3 kg beras putih. Jika mustahiq merasa lebih senang menerima uang daripada beras, menurut madzhab Hanafi, yang lebih utama zakat fitrah diberikan dalam bentuk uang.

Zakat

Niat adalah salah satu syarat penting dalam keabsahan ibadah ini. Niat sebagaimana ibadah yang lain, cukup diucapkan dalam hati saja, dan sunnah dilafadzkan secara lisan. Niat tidak harus diucapkan dengan bahasa Arab tetapi dapat menggunakan bahasa apapun seperti contoh niat dengan bahasa Arab untuk dirinya sendiri:

نويت أن أخرج زكاة الفطر عن نفسي لله تعالى

“Saya niat mengeluarkan zakat fitrah saya karena Allah ta’ala.”
Contoh niat zakat fitrah dengan bahasa Arab untuk orang lain:

نويت أن أخرج زكاة الفطر عن……. لله تعالى

“Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk….. (sebutkan yang dimaksud) Allah ta’ala.”

Niat yang dilakukan pada saat menyerahkan zakat kepada mustahiq, atau kepada wakil yang akan menyalurkan pada mustahiq atau pada saat menyisihkan beras yang dipergunakan sebagai zakat fitrah. Niat zakat fitrah juga dapat diwakilkan kepada orang lain.


Author : Aris Yajid Bustomi

Cari info tentang ekonomi syariah? Cek aja di website KSEI Progres

[Keep in touch with us].
👥: Progres Tazkia 1
🐦: @KSEI_Progres
📷: progrestazkia
🎥Youtube: Progres Tazkia

Leave a Reply