Mengupas ekonomi Islam era Umar bin Abdul Aziz

Sebelum kita membahas bagaimana kejayaan ekonomi Islam di era beliau, alangkah lebih baiknya kita mengenal sedikit tentang Umar bin Adul Aziz.

Umar bin abdul aziz merupakan khalifah ke-8 dinasti ummayah, beliau lahir pada 2 November 682 M di Madinah, Arab Saudi. Beliau adalah putra dari Abd Al-Aziz bin Marwan bin Hakam dan ibunya adalah Ummu ’Ashim binti ’Ashim bin Umar Ibnul-Khaththab.

Oh iya, mau tanya boleh?
Adakah negara yang telah menjanlankan sistem okonomi islam secara menyeluruh?

Dalam buku ekonomi Islam 101, Chandra Natadipurba menyatakan bahwa setidaknya ada 3 negara yang sudah menerapkan sistem ekonomi islam secara menyeluruh:
1. Kerajaan Islam di masa nabi Sulaiman
2. Peradaban kota Madinah yang di pimpin Rasulullah
3. Kekhalifahan Umar bin Abdul aziz

Source; Ekonomi Islam 101, Chandra Natadipurba

Nah yang menarik adalah Seorang Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah seorang manusia biasa, bukan nabi maupun rasul, tetapi bisa menerapkan Ekonomi islam secara menyeluruh. Ditambah ia mewarisi sebuah negara yang tidak sempurna dan bahkan dalam beberapa hal jauh dari Islam akibat penyelewengan yang dilakukan Khalifah bani ummayah sebelumnya. Dan kekuasaannya itu setara degan 39 negara hanya dalam waktu 29 bulan bisa menciptakan 0 penerima zakat.

Sungguh prestasi yang luar biasa nan menggagumkan bukan?
Pertanyaannya adalah Bagaimana sistem ekonomi di era beliau? sehingga bisa hebat itu.

Sebelum membahas bagaimana kebijakan ekonominya, saya akan coba memaparkan gambaran seberapa makmur masyarakat pada waktu itu, saat dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Ibnu Abdil Hakam dalam kitabnya Sirah Umar bin Abdul Aziz hal. 59 meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata,”Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Abu Ubaid dalam Al-Amwal hal. 256 mengisahkan, Khalifah Umar Abdul mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di propinsi itu. Dalam surat balasannya, Abdul Hamid berkata,”Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka tetapi di Baitul Mal masih terdapat banyak uang.” Umar memerintahkan,”Carilah orang yang dililit utang tapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya.” Abdul Hamid kembali menyurati Umar,”Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.” Umar memerintahkan lagi, “Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.” Abdul Hamid sekali lagi menyurati Umar,”Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah tetapi di Baitul Mal ternyata masih juga banyak uang.” Akhirnya, Umar memberi pengarahan,”Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah pinjaman kepada mereka agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.” (Al-Qaradhawi, 1995).

Bagaimana sudah terbayang belum? ^_^
seberapa makmurnya masyarakat pada saat dipimpin oleh beliau

Selanjutnya kita akan membahas kebijakan ekonomi beliau, berikut adalah 8 kebijakan ekonomi Umar bin Abdul Aziz:

1. Meningkatkan upah kaum buruh setara dengan setengah gaji para pejabat negara atau istana

2. Melarang gubernur menggunakan uang umat sebagai modal usaha pribadinya

3.Memutusakan bahwa negara menanggung utang seseorang jika memang orang tersebut benar-benar terbukti tidak mampu membayar utang selama utangnya bukan untuk bermaksiat

4. Menganjurkan kebebasan berusaha dan tidak mencampuri harga-harga

5. Melarang menjual tanah kharaj

6. Meringankan pajak petani

7. Memerintahkan penghematan
“jika suratku ini tiba ditanganmu, maka pertajam pena dan perkecil tulisan, gabungkan keperluan” yg banyak dalam 1 lembar, karena kaum muslimin tidak memerlukan kata” panjang yang merugikan baitul mal”

8. Menetapkan gaji untuk para balita yang yatim karena orang tuanya gugur dalam peperangan.

Untuk menerapkan kebijakan diatas Khalifah Umar malakukan Redistribusi kekayaan negara yaitu Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar bin abdul azis memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Kejayaan Ekonomi Islam di era Umar bin Abdul Aziz bisa tercipta bukan karena sistem ekonomi saja yang islami. Melainkan karena beliau menegakkan syariah degan tegas dan menyeluruh dalam kekhalifahannya,

Ekonomi Islam hanya akan mungkin berhasil jika diterapkan dalam masyarakat Islam yang menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah), baik di bidang ekonomi itu sendiri maupun di bidang-bidang lainnya seperti politik, sosial, pendidikan, budaya, dan lain-lain (Al-Qaradhawi, 1995)


Sebagai penutup, ada cerita menarik tentang rahasia kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. yaitu dengan semboyan yg terkenal berikut:

يا بني إذا صلح الرأس فليس على الجسد بأس

Berikut ceritanya….
Mohon dihayati dengan baik-baik ^_^

Wahai anakku, jika kepala itu shalih maka tidak ada kerisauan pada jasad.

Ceritanya, di zaman umar bin abdul aziz keluarlah seseorang lalu melihat ada pengembala mengembala domba di tengah gembalaan dombanya terlihat 30 anjing, lalu beliau bertanya kepada si penggembala domba ini,

Orang bertanya: P
Penggembala domba: J

P: Kenapa terlalu banyak anjing mengelilingi gembalan mu
J: ketahuilah itu bukan anjing tetapi musang wahai anakku
P: subhanallah, musang diantara domba, apakah tidak akan mencelakai domba?
J: Wahai anakku, jika kepala itu shalih maka tidak ada kerisauan pada jasad.

Jika pemimpin itu benar berdasarkan syariat Allah maka tidak ada kekhawatiran di dalam diri setiap rakyatnya, sehingga rakyat tidak perlu takut lapar lalu berebut mencari makan dengan cara haram karena pemimpinnya berlaku amanah dan adil diantara kebutuhan hajat hidup rakyatnya.
Penggembala domba inilah amirul mu’minin umar bin abdul aziz.

Subhanaallah, cerita ini menjadi rahasia kesuksesan Umar bin Abdul Aziz memimpin, bahkan musang pun pada masanya tidak berburu domba, karena hajatnya sudah dipenuhi oleh sang Khalifah. Tidak ada orang rakus dimasa itu, sehingga tidak ada kelaparan.

Daftar pustaka:
Natadipurba, Chandra. 2016. Ekonomi Islam 101. Bandung: PT Mobidelta Indonesia.
Al-jawi, M.Shiddiq. 2010. Kejayaan Ekonomi Pada Masa Khilafah Islamiyah. http://www.globalmuslim.web.id/2010/09/kejayaan-ekonomi-pada-masa-khilafah.html. Diakses 6 Agustus 2018.
Dikamra, Kamran. 2016. Gagasan Khalifah Umar Majukan Ekonomi Umayyah. https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/10/01/oeczn1313-gagasan-khalifah-umar-majukan-ekonomi-umayyah. Diakses 6 Agustus 2018

Leave a Reply

Close Menu