Mr. Hu, Shopee Bunuh UMKM Indonesia

Mr. Hu, Shopee Bunuh UMKM Indonesia

πŸ—žοΈπŸ“° Weekly News πŸ“°πŸ—žοΈ

β–ͺ️ Kurs Tengah USD-IDR Rp. 14.649,89 πŸ”½
β–ͺ️ BI 7-Day RR 18/03/21 : 3,50%
β–ͺ️ Inflasi IHK (yoy) per 31 Maret 2021, 1.37 %. 
β–ͺ️ Target Inflasi 2021, 3(Β±1%)
β–ͺ️ IHSG 02/04/2021
6.011,46 +25,93 (0,43%)πŸ”Ό
β–ͺ️ JII 02/04/2021
606,44 +0,75 (0,12%)πŸ”Ό
β–ͺ️ ISSI 02/04/2021
177,92 +1,03 (0,58%)πŸ”Ό

βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–

πŸ† Mr. Hu, Shopee Bunuh UMKM Indonesia πŸ†

Beberapa waktu lalu ada tagar yang sangat memukul dikalangan pengusaha yaitu #ShopeeBunuhUMKM. Mereka membicarakan fenomena Mr. Hu sebagai agency dari shopee dalam mengimpor produk-produk Tiongkok.

Mentri perdagangan menyebutkan bahwa fenomena tersebut diistilahkan sebagai price predatory. Kemudian setelah Kemendag mengeluarkan berbagai statement yang agak keras tentang price predatory ditempat marketplace karya anak bangsa yang bukan milik bangsa ini. Setelah beberapa hari kemudian, dikutip dari kumparanBISNIS, sang keponakan Luhut mengeluarkan statement sanggahannya dan mengklaim bahwa shopee kembangkan UMKM lokal karena sebenarnya 97 persen penjualan yang terjadi di Shopee Indonesia datang dari Indonesia. Sanggahan lain bahwa mereka membayar pajak sesuai dengan PMK nomor 199/PMK/010/2019 yang menurunkan ambang batas bea masuk barang kiriman dari $75 menjadi $3. Barang impor di atas $3 dikenakan tarif pajak sebesar 17,5 persen.

Dikutip dari Indonesian E-commerce Association (IdEA) bahwa hanya 6-7 persen kontribusi produk lokal dari semua produk yang listing di Online Marketplace di Indonesia yang dimana sebagian besar adalah produk impor. Artinya 93 persen yang listing di marketplace tersebut adalah produk bukan buatan Indonesia. Meskipun sebelumnya dikatakan bahwa 97 persen penjualnya asli Indonesia tetapi produknya bukan berasal dari Indonesia.

Dari sisi konsumen, mungkin kita akan tertarik dengan membeli produk Tiongkok dengan harga produk yang terjangkau namun sebenarnya untungnya hanya untuk diri sendiri tidak memikirkan untungnya untuk industri lokal.
Sedangkan, dari sisi produsen banyak yang dirugikan karena bersaingnya harga di marketplace orange tersebut.
Lebih lanjut lagi, Pemerintah Tiongkok mendukung dengan regulasi ekspor yang meringankan dan sebaliknya impor di persulit oleh Tiongkok.

Contoh studi kasus yang terjadi di marketplace. Ada sebuah minyak yang ternama di Indonesia, namanya minyak Kutus-Kutus . Harga ecerannya Rp.240.000/botol yang dijual oleh official store. Namun, di toko lain ada yang menjual di harga Rp. 125.000/botol dan terlihat jelas bahwa harga tersebut membanting harga dari official store. Terlebih lagi, ada yang menjual di bawah harga pokok yaitu Rp. 113.000/botol padahal modal pokok nya Rp.120.000/botol. Lalu mereka yang menjual di bawah harga pokok mendapatkan keuntungan dari mana? Jadi, mereka bisa mendapatkan keuntungan dari diskon ongkos kirim.

Dimana mereka mendapatkan keuntungan secara indirect atau tidak langsung yang keuntungan tersebut didapatkan bukan dari penjualan produknya tetapi dari diskon ongkos kirim. Maka, tidak heran mereka dapat menjual ribuan produk. Contoh kasus yang diceritakan diatas hanya satu produk dan masih banyak produk-produk impor yang dijual di marketplace orange tersebut seperti barang elektronik, pernak-pernik, mainan anak, dan lain sebagainya.

Bagi marketplace sendiri tidak peduli akan kejadian tersebut karena itu urusan mereka dan marketplace akan tetap mendapatkan keuntungan dari fenomena tersebut. Tetapi bagi UMKM Indonesia ini tidak sehat karena bersaingnya harga dengan produk impor
βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–
Sumber:
https://www.google.com/amp/s/www.viva.co.id/amp/berita/bisnis/1353265-menteri-perdagangan-ungkap-e-commerce-asing-yang-dimaksud-jokowi

https://www.google.com/amp/s/www.viva.co.id/amp/berita/bisnis/1353348-mendag-ungkap-praktik-intelijen-dagang-china-yang-rusak-pasar-umkm-ri

https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/kumparanbisn…

Cek informasi lainnya di sini

Leave a Reply